Saturday, April 20, 2013

2:07 AM
  Raja yang berimpian untuk membangkitkan kerajaan Baekje<strong>, Raja Seong</strong>



Pindah ibu kota ke Sabi


Pada tahun 475, raja Jangsu dari Goguryeo menyerang ibu kota Baekje dinamakan Hanseong dengan membawa 30 ribu tenaga militernya. Setelah itu, Baekje memindahkan ibukota ke Ungjin pada bulan Oktober tahun sama untuk menegakkan sistem negara terlepas dari ancaman Goguryeo.

Namun pada tahun 538, Baekje kembali memindahkan ibu kota ke Sabi untuk memperluas kekuasaan wilayahnya pada era itu. Pada saat ini, wilayah Sabi tersebut adalah kabupaten Buyeo, Chungcheong Selatan. Selain itu, Baekje mengubah nama negara sebagai 'Nambuyeo' atau ‘Buyeo Selatan’. Orang yang berimpian untuk membangkitkan Baekje lewat kepindahan ibu kota dan pengubahan nama negara tiada lain adalah raja Seong dari Baekje.




Menghiasi sejarah akhir kerajaan Baekje


Raja Seong yang meneruskan ayahnya raja Muryeong pada bulan Mei tahun 523 dicatat sebagai tokoh pintar dan berani dalam buku sejarah ‘Samguksagi’.

Untuk memulihkan kembali Baekje, rasa Dongseong meningkatkan aliansi Shilla-Baekje dan raja Muryeong membentuk 22 distrik administrasi khusus dinamakan ‘damro’. Selain itu, raja Seong juga berupaya untuk membangkitkan Baekje lewat penyatuan internal setelah memindahkan ibu kota ke Sabi. Khususnya, raja Seong ingin mengembangkan agama Buddha. Dia mengutamakan masalah diplomatik, sehingga memperhatikan hubungan dengan Cina. Untuk itu, dia membawa insan-insan yang berkemampuan tinggi dan mengimpor kitab Buddha dari Cina. Hal tersebut bermanfaat untuk meningkatkan kualitas budaya Baekje. Selain itu, dia memperkenalkan agama Buddha dan berbagai budaya ke Jepang, sehingga disebut sebagai ‘raja agung dan pandai’ di Jepang. 





Kehidupan akhir yang tragis


Setelah memindahkan ibu kota ke Sabi, raja Seong memusatkan pikirannya untuk merebut kawasan sekitar sungai Han yang telah dirampok oleh Goguryeo. Untuk itu, raja Seong membentuk pasukan gabungan antara Shilla, Gaya dan Baekje.

Walaupun raja Seong berhasil merebut kembali kawasan sekitar sungai Han, namun raja Jinheung dari Shilla kembali merampok wilayah sungai Han dengan mengabaikan hubungan aliansi Shilla-Baekje. Untuk meluncurkan serangan balasan, raja Seong memutuskan untuk menyerang Shilla pada tahun 554 walaupun banyak bawahan tidak menyetujuinya.

Perang antara Shilla dan Baekje tersebut mencapai puncaknya di benteng Gwansan di kawasan Okcheon, Chungchong Utara. Baekje diserang secara mendadak oleh pasukan Shilla, dan putranya Chang diisolasikan di wilayah itu. Oleh karena itu, raja Seong menuju medan perang untuk menyelamatkan putranya, namun ditangkap oleh seorang serdadu Shilla sehingga dibunuh secara tragis. Akibatnya, pasukan Baekje yang kehilangan raja juga mengalami kerugian fatal.

Demikianlah, raja Seong yang menjaga tahta raja selama 30 tahun wafat akibat perang dengan Shilla, sehingga hubungan aliansi antara Shilla dan Baekje juga terputus. Selain itu, hubungan dengan Cina dan Jepang juga mengalami keruntuhan. Akibatnya, kekuasan raja semakin melemah, maka sistem pemerintahan bangsawan mulai dibentuk. 




Impian untuk memulihkan Baekje hilang dalam sejarah


Dalam sejarah kerajaan Baekje, tidak begitu banyak tokoh yang menjanlakan kehidupan pergolakan seperti halnya raja Seong. Dia berani memindahkan ibu kota, memperbaiki sistem pemerintahan, merebut kembali wilayah yang dirampok oleh Goguryeo, dan mengembangkan budaya agama Buddha. Walaupun dia berimpian untuk memulihkan kembali Baekje, sangat disayangkan, Baekje hilang dalam sejarah tanpa mekar.
 




 Source : kbsworls




  

0 comments:

Post a Comment