Sunday, April 28, 2013

5:51 AM
seorang pejuang yang mengorbankan masa muda demi kemerdekaan negara<strong>, Jo Myung-ha</strong>




 


Menyeberangi laut dengan tujuan untuk kemerdekaan negara

Para pemuda Korea, jagalah tanah air dengan kuat. Jika kehilangan tanah air, di mana kita mencari kebebasan, keadilan, dan perdamaian? Bangsa yang kehilangan negara hanya punya rasa malu dan terus mengembara seperti budak.

Itulah tulisan yang diukir pada patung pahlawan Jo Myung-ha di sebuah taman di Seoul, tepatnya di Gwacheon, di propinsi Gyeonggi. Pahlawan Jo Myung-ha lahir di kabupaten Songhwa, propinsi Hwanghae pada tangggal 8 April 1905. Pada bulan Maret tahun 1926, dia bekerja di kantor kabupaten Shincheon, namun setelah mendengar gerakan kemerdekaan dari pahlawan Kim Gu, Roh Baek-rin, dan lain-lainnya, dia memutuskan untuk mengambil bagian dalam gerakan kemerdekaan. Dia berpikir bahwa dia harus mempelajari terlebih dulu dan mengenal Jepang untuk menantang Jepang, sehingga dia menyeberangi laut untuk menuju ke Osaka, Jepang.



Menuju Taiwan untuk gerakan anti-Jepang

Setelah tiba di Jepang, pahlawan Jo mengubah namanya seperti halnya orang Jepang, dan mulai bergaul dengan orang Jepang. Dia bekerja di perusahaan elektronik dan toko-toko biasa, serta bersekolah pada malam hari.

Namun, dia tidak sempat memperoleh peluang untuk mewujudkan tekadnya di Jepang, sehingga dia pun menuju Taiwan yang merupakan negara persinggahan pada tahun 1927 untuk pergi ke pemerintahan sementara Korea di Shanghai, Cina.

Pada waktu itu, Jepang siap untuk menginvasi daratan Cina, dan Taiwan adalah wilayah yang sangat penting sebagai garda depan. Oleh karena itu, pasukan Jepang banyak yang diterjunkan di pelosok Taiwan. Di sana, pahlawan Jo berlatih menggunakan pedang pendek dan selalu mengolesi racun pada mata pisaunya agar dapat digunakan kapan saja. Pada tahun 1928, akhirnya dia mendengar berita bahwa jenderal angkatan darat Jepang, Kunihiko Kuninomiya mengunjungi Taiwan. 




Melepaskan keluh kesah bangsa Korea

'Aku akan membunuh Kuninomiya dengan tangan saya untuk melepaskan kesengsaraan bangsa Korea'

Demikianlah tekad pahlawan Jo yang menggelora. Untuk melaksanakan rencananya, dia secara detil memperoleh informasi mengenai jadwal Kuninomiya dan keadaan di sekitarnya. Akhirnya, pada tanggal 14 Mei tahun 1928, dia muncul di tempat yang dilewati Kuninomiya dengan membawa pisau yang beracun. Di kedua sisi jalan, satuan penjaga berjejer. Namun, saat mobil tanpa penutup yang ditumpangi Kuninomiya muncul, pahlawan Jo yang saat itu berada di tengah kerumunan masyarakat meloncat ke belakang mobil itu dengan membawa pisau pendeknya. Seketika, dia melemparkan pisau pendek ke arah Kuninomiya. Namun, pisau pendek itu mengenai belakang supir dan Kuninomiya hanya cedera ringan. Di saat itulah, pahlawan Jo Myung-ha meneriakkan slogan 'Korea Merdeka' dan kemudian dia pun ditangkap oleh polisi Jepang. 





Pemuda yang menginginkan kemerdekaan negara gugur di dalam penjara

Pemerintah Jepang dan pemerintahan gubernur jenderal di Taiwan mengumumkan insiden tersebut sebagai insiden yang kebetulan ditimbulkan oleh seorang pemuda yang ingin bunuh diri, karena kedua pihak merasa khawatir bahwa perasaan anti Jepang menyebar ke Joseon dan Cina. Akhirnya, pahlawan Jo Myung-ha dihukum mati dan dieksekusi pada bulan Oktober tahun 1928 dalam usia 24 tahun. Tiga bulan kemudian setelah pahlawan Jo gugur demi negara, Kuninomiya juga meninggal dunia akibat racun yang telah menyebar ke seluruh tubuhnya.

Itulah kisah pahlawan bernama Jo Myung-ha yang mengorbankan masa muda demi kemerdekaan negara. Saat kemerdekaan terwujud yaitu 17 tahun setelah dia gugur, nampaknya senyum hangat terpancar di wajah pahlwan Jo, seperti halnya bunga-bunga saat ini mekar di sekeliling patungnya.






Source :kbsworld

0 comments:

Post a Comment